Koreksi, yuk, koreksi!

Masalah yang paling sering terjadi di kalangan mahasiswa sekarang ini adalah keengganan untuk menuangkan buah pikiran ke dalam sebuah tulisan. Padahal, menulis merupakan salah satu kegiatan yang [seharusnya] wajib kita lakukan sebagai bentuk legitimasi status cendekiawan muda. Selain untuk menegaskan keberadaan atau eksistensi, tulisan juga menjadi cara untuk melatih bagaimana kita dapat mengaktualisasikan diri: melakukan hal terbaik dari yang kita bisa.

wepreventcrime (WPC) menganggap bahwa kegiatan menulis adalah sesuatu yang penting. Sebagai mahasiswa yang kuliah di Jurusan Kriminologi, Universitas Indonesia, yang mengkaji fenomena-fenomena kejahatan yang ada di masyarakat secara sosiologis, kegiatan memproduksi sebuah ilmu pengetahuan dan informasi melalui tulisan yang dapat dibaca oleh masyarakat luas menjadi kebutuhan yang utama. Ini menjadi dasar mengapa peserta pendaftaran anggota baru WPC disyaratkan untuk membuat sebuah karya tulis berupa esai atau opini tentang isu-isu kejahatan, penyimpangan dan kenakalan.

Dari sepuluh orang yang mendaftarkan diri ke Divisi WPC pada sesi open recruitment yang dihelatkan oleh Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM), pada Hari Kamis dan Jum’at, 8-9 Maret 2012, 90% di antaranya berhasil menyelesaikan tugas sesuai dengan tenggat waktu yang telah diberikan oleh Tim WPC. Akan tetapi penyelesaian tugas sesuai tenggat waktu bukan berarti telah diterima menjadi anggota WPC. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk menyeleksi semua pendaftar supaya mendapatkan sumber daya yang kompeten dalam menjalankan semua aktivitas yang digagas oleh WPC.

Pada Hari Sabtu, 10 Maret 2012, Tim WPC berkumpul di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia untuk melakukan penilaian terhadap karya-karya tulis peserta. Pukul sebelas pagi, di tengah suasana Kantin Takor FISIP yang tidak begitu padat seperti hari biasanya, di Meja Pojok (tongkrongan favorit mahasiswa kriminologi), Kaspo dan Tooftolenk mulai membuka surat elektronik redaksi WPC untuk meninjau tulisan-tulisan yang sudah masuk dalam kotak surat. Hingga pukul dua siang, ketika Raden dan Bede sudah turut serta berkutat di depan laptop untuk memeriksa tulisan peserta, baru lima peserta yang mengirimkan tulisannya.

“Masih ada dua jam lagi sebelum pukul lima,” ujar Kaspo. “Semoga saja semua tulisan masuk ke email kita.”

“Kalau hanya lima tulisan ini saja yang masuk hingga pukul lima, bagaimana?” Bede bertanya.

“Ya, kita harus objektif!” jawab Kaspo. “Kita tidak bisa menerima peserta yang tidak mengirimkan tulisannya, sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan.”

Menilai sebuah karya tulis memang tidak gampang. Terlebih lagi, karya tulis yang dinilai adalah sebuah karya semi ilmiah tentang isu kejahatan. Tim WPC membutuhkan ketelitian yang super ekstra agar tidak terjadi kesalahan dalam menilai: menghindari unsur subjektivitas dan mengutamakan objektivitas, melakukan verifikasi ejaan yang disempurnakan (EYD) dan pemahaman teori-teori ilmu kejahatan yang telah dipelajari dalam mata kuliah kriminologi.

Kemauan peserta dalam mencari tema cukup mendapat apresiasi dari Tim WPC. Misalnya, ada yang menulis tema unik tentang pencurian sticker, pendapat umum tentang korupsi, pendalaman terhadap teori differential association Sutherland, dan ada juga yang mencoba merespon isu-isu teranyar yang kerap diberitakan oleh media massa belakangan ini. Namun demikian, tidak dapat dinafikan bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dari para peserta dalam mengemas tulisan-tulisan mereka secara apik dan nikmat untuk dibaca. Ekspektasi dari Tim WPC adalah karya tulis para peserta ini nantinya akan menjadi konsumsi publik, dalam rangka mendorong gerakan menyebarluaskan pengetahuan kriminologi secara populer ke masyarakat, dan dimuat dalam blog yang dikelola oleh WPC. Oleh sebab itu, mau tidak mau, tim pengoreksi memberikan banyak catatan atas kekeliruan-kekeliruan dalam tulisan masing-masing peserta.

Waduh, lebih banyak komentar pengoreksinya daripada tulisannya. Gimana, nih?” celetuk Kaspo di sela-sela kegiatan mengoreksi tulisan peserta.

“Iya, ya?!” Tooftolenk garuk-garuk kepala.

“Ya, mau gimana lagi?” komentar Raden. “Kalau salah, ya harus dikasih tahu di mana salahnya, biar objektif.”

“Tapi kalau misalnya koreksian kita yang ternyata salah…?” Tooftolenk bertanya lagi.

“Tenang, gue ada persediaan kamus EYD, koreksian kita berdasarkan ini. Jadi, mudah-mudahan valid! Asyek!” seru Bede.

Bukan mahasiswa kriminologi, namanya, kalau setiap berkegiatan tidak bercanda. Bahkan, dalam memberikan catatan koreksi pun, Tim WPC membubuhkan catatan-catatan yang berbau candaan.

Ga pa pa nih, begini?” satu orang melemparkan celetukan lagi.

“Santai, ga perlu serius-serius!” yang lain menanggapi.

Menjelang pukul tiga sore, Reza, anggota WPC yang lain, datang. Sementara itu, jumlah tulisan yang masuk ke kotak surat elektronik belum juga bertambah. Berbincang sambil memikirkan rencana-rencana WPC untuk ke depannya pun sudah dilakukan.

“Hadeuh, ini anak-anak, kok belum ngirim tulisannya, yak?” Tooftolenk mulai mengeluh.

Akhirnya, Tim WPC memutuskan untuk pindah tempat ke Gedung Nusantara FISIP UI agar mendapatkan akses jaringan internet yang lebih lancar. Pukul empat sore, tulisan yang masuk bertambah lagi. Total tulisan menjadi tujuh. Sekitar pukul setengah lima, nambah satu lagi, hingga tepat pukul lima sore (batas waktu yang ditentukan), tulisan bertambah satu lagi. Total tulisan yang diterima oleh Tim WPC adalah sembilan tulisan.

Di sela-sela menunggu tulisan masuk dan mengoreksi tulisan tersebut, ngaskus dan meninjau blog WPC menjadi kegiatan sampingan.

Menjelang maghrib, Tim WPC hampir merampungkan kegiatan penilaian terhadap semua tulisan yang terkumpul. Sembari menilai itu, Tim WPC juga sudah mulai memetakan siapa-siapa saja peserta yang akan diterima menjadi anggota baru WPC sehingga dapat didiskusikan pada sesi staffing esok hari bersama divisi-divisi lainnya di HIMAKRIM.

Semoga hasil penilaian dari Tim WPC membuahkan hasil yang baik dalam menyaring potensi-potensi mahasiswa baru yang memiliki kemauan dan kemampuan dalam menjalankan aktivitas yang mulia ini. Kita semua berharap, apa yang dilakukan WPC dan anggota baru nanti adalah sebuah kegiatan dan gerakan yang membawa manfaat bagi sesama. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang budayawan, “Berkegiatan di ranah media itu, untuk membuatnya menjadi lebih baik, adalah jalan kita menuju surga! Kita menyelamatkan orang banyak.”  #asyek

__________________________________________

Tim WPC


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s