Opini: Memulai Kembali

Ide itu terkadang datang dari mana saja. Semakin lama, ide-ide ini menumpuk. Apabila dibiarkan menumpuk, dia akan membusuk, dan ujung-ujungnya akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak menjadi apa-apa.

Sebuah gagasan yang terpikirkan, akan lebih baik jika segera diejawantahkan melalui aksi yang nyata, dalam bentuk apa pun itu. Pokoknya, dia membuahkan hasil yang dapat dilihat atau didengar, dan hasilnya memberikan dampak yang baik. Serangan ide-ide yang datang entah dari mana itu, terkadang, membuat hati gelisah: gelisah karena tak tahan menghadapi tumpukan yang semakin lama semakin memuakkan. Apalagi berdiam diri tanpa melakukan apa-apa di tengah-tengah krisis wacana dan aksi (oleh mahasiswa sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi), diri ini seolah merasa menjadi katak di dalam tempurung, tanpa ada inisiatif untuk bergerak lebih bebas dan beraktivitas lebih luas dan mendunia.

Persoalannya adalah bukan terletak pada bagaimana kita unjuk gigi ke luar (ke luar lingkungan kampus, misalnya). Akan tetapi, penekanannya ialah bagaimana kita bisa mendayagunakan kapasitas kita sebagai agen perubahan, istilah yang sering digaungkan itu, dalam melakukan sesuatu dengan perangkat apa adanya. Dengan kata lain, sah-sah saja jika ruang gerak kita berada di dalam kandang, tetapi pemikiran kita dapat menginspirasi orang lain di luar lingkungan kita untuk melakukan gerakan yang sama untuk membangun masyarakat; atau wacana kita beriak-riak dalam lingkungan intelektual, yang lantas mendorong terbangunnya sebuah peradaban manusia yang lebih baik. Intinya, kita tidak menjadi katak dalam tempurung di ranah pemikiran.

Menurut saya, sudut pandang ini lah yang kemudian mendasari mengapa ‘media’ menjadi utama bagi pemuda untuk mengusung sebuah pergerakan. Media, baik tulisan maupun dalam bentuk lainnya, menjadi sebuah perpanjangan tangan yang dapat kita kendalikan dari tempat kita berdiam diri. Melalui media, kita bisa menyalurkan aspirasi, ekspresi dan gagasan-gagasan yang inovatif dan kreatif. Dan kita pun tidak bisa menafikan kenyataan sejarah bahwa media menjadi salah satu faktor penting bagi terbangunnya sebuah tatanan masyarakat yang setiap harinya mengalami perubahan secara terus menerus. Apa yang dikedepankan dalam tulisan ini ialah bagaimana kita bisa ‘bermedia’ (menjadikan media sebagai alat), bukan sekedar mengonsumsi sajiannya. Di titik ini lah kita harus melakukan apa yang kita kenal sebagai memproduksi dan mendistribusikan ilmu pengetahuan dan informasi.

Saya percaya, dengan kemauan dan intensitas yang tinggi, semuanya dapat dilakukan. Oleh sebab itu, ada baiknya kita berhenti berdiam diri, lantas melakukan satu hal berarti yang mengandung manfaat-manfaat bagi orang lain dan diri sendiri. Aksi-aksi mahasiswa yang sudah lama hilang (dan yang sudah sering disalahartikan) itu, oleh mahasiswa kriminologi FISIP UI (dengan Himpunan Mahasiswa Kriminologi-nya), akan kembali dihidupkan dalam lingkungan berkehidupan mahasiswa mulai dari detik ini.

_____________________________________________

Tooftolenk Manshur Zikri

Mahasiswa Kriminologi FISIP UI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s