ANTI KEKERASAN: UTOPIA ATAU NISCAYA?

Sebagai rangkaian acara tahunan, Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP UI akan mengadakan rangkaian kegiatan acara dalam sepekan (yang kemudian dikenal dengan kegiatan Pekan Kriminologi 2011).

Rangkaian acara kali ini bertajuk “Anti Kekerasan: Utopia atau Niscaya?”

Dalam acara Pekan Kriminologi, HIMAKRIM, didukung oleh Departemen Kriminologi FISIP UI, mengangkat wacana tentang gerakan anti kekerasan (secara global) yang telah menjadi persoalan akut di masyarakat. Berangkat dari wacana ini, HIMAKRIM berangkat lebih jauh pada pembahasan tentang teror dan terorisme di masyarakat, gagasan penanggulangan terorisme melalui soft approach, dan menjadikan pluralisme (kemajemukan) sebagai kekuatan pemersatu untuk memerangi praktek kekerasan (terorisme) di masyarakat.

Acara ini akan direalisasikan dalam beragam bentuk, seperti studium generale, Pameran Foto dan Poster, Booth/Bazaar, Pojok Ruang Diskusi (Jumpa Tokoh), Perlombaan (Lomba Poster Anti Teror), dan Pementasan Musik (Band). Selain itu, acara ini juga dilengkapi dengan serangkaian kegiatan kampanye anti kekerasan (terorisme) di lingkungan kampus FISIP UI. Acara puncak akan diadakan pada tanggal 5 – 9 Desember 2011

Saatnya kita mengusung gerakan untuk melawan praktek kekerasan. Apakah gagasan anti kekerasan merupakan satu keniscayaan? Atau hanya merupakan gagasan utopia belaka? Ketahui jawabannya dengan berpartisipasi, berkontribusi, dan mendatangi acara ini. Tunggu perkembangan selanjutnya!

______________________________

Liputan oleh

Tim WE PREVENT CRIME


3 thoughts on “ANTI KEKERASAN: UTOPIA ATAU NISCAYA?

    1. maaf juga, saya anti ajaran-ajaran dari timur tengah… agama saya adalah Islam, bukan ‘agama arab’,, dan Islam tidak melarang ajaran atau ilmu pengetahuan dari mana pun asalnya, selama itu untuk kebaikan umat. Islam tidak melarang pluralisme, sekularisme dan liberalisme .. yang melarang SIPILIS di Indonesia itu adalah tafsir dari MUI atau alim ulama yang tidak lepas dari kekhilafan.. sementara Nabi SAW menyerukan kepada umat untuk mengikuti alim ulama yang bijak dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Menurut saya, pluralisme yang Anda maknai itu sempit dan salah tafsir, ini hanya persoalan terminologi dan bahasa. Terjebak dalam batasan istilah tanpa melihat lebih dalam tentang pemahaman konsep dan makna hakiki bukan merupakan pribadi yang baik. Bukankah itu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW? Jadi, saran saya, silakan gali lagi lebih dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadits dengan mengontekskannya dengan ilmu pengetahuan yang Anda dapat.. dan saya harap itu tidak setengah-setengah dan bukan berdasarkan apa kata mentor atau ceramah tanpa attitude penelitian dan literatur yang bermetode, valid, relaibel, dan sahih, baik sesuai dalam sudut pandang Al-Qur’an dan Haidts.
      Sekian terimakasih.

      -Tooftolenk Manshur Zikri-

  1. Masyarakat yang anti kekerasan adalah masyarakat yang memiliki intelektual tinggi. Sayangnya, mahasiswa yang dianggap sebagai salah satu wakil kaum intelektual pada umumnya bisa menunjukkan keterkaitan itu. Cara-cara jalanan masih sering digunakan untuk apa yang mereka anggap sebagai usaha menuju perbaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s