Judi Sebagai ‘Bukan Kejahatan’*

Sebuah pendapat dari Lisnawati, Kriminologi UI 2008

Cerita ini adalah salah satu pengalaman saya dalam menjalani tugas kecil beberapa semester lalu. Hanya untuk sekedar bercerita, sedikit berbagi pengalaman, dan berpikir sejenak. Karena aturan, kawan, tak selalu menghasilkan kebaikan. Lihatlah sisi lain yang dapat muncul tanpa diharapkan.

Informan saya kali itu adalah seorang pria dewasa dengan kisaran umur antara 28-30 tahun. Sebut saja Norman namanya. Ia merupakan seorang suami dari seorang istri dan seorang bapak dari seorang anak berumur 7 tahun. Ia merupakan salah satu tahanan kasus perjudian di Polres Jakarta X. “Sudah 23 hari saya di sini, Mbak”, begitu katanya saat saya tanyakan lama waktu yang telah ia habiskan di Polres Jakarta X tersebut. Ia menjelaskan bahwa kasus yang melibatkannya saat ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang tahanan. Keterlibatan dirinya dalam  kasus tersebut, dikatakannya sebagai salah satu cobaan hidup yang harus ia tempuh. Ia mengakui perihal kegiatan berjudinya, yakni judi togel, tersebut sebagai salah satu hobi dan “kegiatan iseng-iseng” untuk mengisi waktu luang saat ia sedang tidak ada kegiatan. Berjudi dianggapnya hanya sebagai permainan, bukan perkerjaan. Oleh karenanya, sampai saat ia ditahan pun, ia masih menyesali perbuatannya tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, ia juga menjelaskan proses penangkapan sampai akhirnya ia berada di Polres Jakarta X. Ia menyangkal tuduhan yang diberikan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya. Dalam proses tersebut, dijelaskan bahwa sebenarnya dia bukanlah seorang bandar judi seperti apa yang dituduhkan polisi kepada dirinya. Ia mengaku bahwa saat itu ia hanya melakukan hobinya saja, bukan menjadikan judi sebagai sumber penghasilan. Namun, sial bagi dirinya, karena ia ternyata berteman dengan seseorang yang memiliki hobi yang sama dengan dirinya, yakni berjudi, namun juga menjadikan judi tersebut sebagai sumber penghasilnnya alias bandar judi. Awal perkenalan dengan temannya tersebut, diceritakannya, terjadi saat temannya, sebut saja B, mencari tempat tinggal di daerah sekitar kompleks rumah Norman. Norman yang merasa harus membantu si B tersebut, akhirnya menunjukkan rumah kontrakan yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Setelah si B akhirnya tinggal di rumah kontrakan tersebut, mereka akhirnya berteman satu sama lain. Dari hubungan pertemanan tersebutlah mereka saling mengetahui bawa mereka berdua memiliki hobi yang sama, yakni berjudi togel. Oleh karenanya, kemudian mereka menjadi teman akrab yang “saling bahu membahu” dalam berjudi togel.

Sejak awal, informan mengetahui bahwa si B memilik hobi yang sama dengan dirinya, ia telah memberikan peringatan kepada temannya itu untuk tidak “berjualan” atau menjadikan judi sebagai sumber penghasilnnya. Begitu katanya. Namun, tanpa sepengetahuan informan, ternyata temannya tersebut, si B, menjalankan usaha perjudian. Suatu hari, konsumen si B tertangkap oleh polisi. Setelah beberapa kali diperiksa, akhinya si B pun ikut diciduk polisi. Dengan tertangkapnya teman B dan si B sendiri, bukti-bukti selanjutnya (berupa SMS B yang nitip nomor togel kepada Norman untuk ikut dipasangkan) pun mengarah kepada informan. Tak lama menunggu, akhirnya informan pun ikut diciduk dan dinyatakan terlibat dalam usaha perjudian togel oleh pihak kepolisian. Setelah berita acara perkara (BAP) selesai dibuat, informan pun akhirnya resmi menjadi penghuni di salah satu sel di Polres Jakarta X.

Informan mengaku bahwa setelah ia ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian karena kasus perjudian yang menjeratnya, reaksi pertama yang yang ditunjukkan oleh keluarga atas kasus yang menimpanya tersebut adalah panik. Dikatakannya bahwa istri beserta keluarganya selalu mengkhawatirkan dan bersedih atas dirinya. Hal itu dikatakannya sebagai hal paling berat dari cobaan yang menimpanya tersebut. Ia mengakui bahwa keluarga merupakan hal paling utama yang menurutnya paling penting dalam kehidupannya. Ia tidak ingin keluarganya bersedih atas dirinya. Ia juga tidak ingin anaknya mengetahui kondisi dan keberadaan dirinya yang sedang ada di tahanan saat ini. Oleh karenanya, ia meminta kepada istri dan keluarganya untuk tidak membicarakan keberadaan dan kondisinya yang sedang menjadi status sebagai tahanan di Polres tersebut kepada sang anak. Ia berpesan kepada istrinya untuk selalu mengatakan kepada anak satu-satunya tersebut bahwa ia sedang berada di luar kota apabila anaknya menanyakan tentang keberadaan dirinya saat ini.

Judi = Kejahatan ?  

Dalam studi kriminologi, satu hal yang paling saya ingat adalah, dalam melihat suatu tindakan, janganlah hanya melihat dari satu sudut pandang saja. lihatlah juga dari sisi lainnya dan kemudian pikirkanlah. Maka, penglihatanmu akan menjadi lebih kaya, lebih humanis. Begitu akan lebih baik.

Dari situ, dalam melihat setiap tindakan yang disebut sebagai jahat, kriminologi tidak hanya memfokuskan diri pada kejahatan dan pelakunya saja, namun juga korban dan reaksi sosial yang terkait dengan tindakan tersebut. Di sisi lain, dalam kriminologi juga dikenal istilah victimless crime, yakni istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan kejahatan-kejahatan yang tidak mengakibatkan kerugian pada pihak lain. Pemahaman demikian juga didukung oleh pendapat beberapa tokoh yang mengungkapkan bahwa:

Victimless crimes are those that do not directly harm other persons or their property. Crimes such as abortion, homosexuality, and drug addiction were included as central examples. Other crimes that have been identified as victimless include euthanasia, gambling, prostitution, pornography, public nudity, public drunkenness, drunk driving, seatbelt laws, and status crimes (crimes charged against juveniles that would not be crimes for adults, such as truancy or curfew violations) (Schur, 1965).

 

Self-Victimizing Victims. These victims engaged in deviant and criminal behaviors in which they were partners with the offenders; thus, these victims were totally responsible. Examples are prostitutes, drug users, drunks, and gamblers (Schafer, 1968).

Dalam pendefinisian di atas, diungkapkan bahwa ciri utama victimless crime adalah tidak ada pihak lain di luar diri pelaku yang menjadi korban akibat tindakan yang dilakukannya. Secara tersurat juga dikatakan bahwa judi termasuk dalam kategori victimless crime. Hal inilah yang sebenarnya menjadi fokus saya dalam tulisan ini. “Apakah judi pantas dinyatakan sebagai kejahatan?”.

Kembali pada cerita di atas, berdasarkan ciri victimless crime di atas, maka secara terbuka saya nyatakan bahwa kegiatan berjudi bukanlah merupakan kejahatan apalagi pelanggaran hukum. Dalam konteks ini, agar lebih jelas, perjudian yang saya maksud di sini adalah perjudian yang murni judi. tidak ada tindakan pelanggaran hukum lainnya yang menyertai kegiatan berjudi tersebut, misalnya mencuri uang untuk berjudi. Begitu juga menurut pengakuan Norman, dia berjudi karena hobi. Dan di dunia ini, saya kira penghobi judi tidaklah sedikit. Bayangkan saja, jika seluruh penjudi dikriminalisasi, apa jadinya dunia ini? Sebagian besar daratannya mungkin akan dipenuhi kerangkeng yang menampung para penjudi yang dikriminalisasi. apakah itu baik?

Lebih jauh lagi, apabila pelakunya ditahan atas perjudian yang dilakukannya, maka saya katakan bahwa pelaku perjudian tersebut justru menjadi korban. Pada cerita Norman di atas, ia justru menjadi korban atas perilaku temannya yang mengakibatkan ia berstatus sebagai tahanan saat itu, dan statusnya sebagai tahanan saat itu juga telah menimbulkan kesedihan pada keluarganya. Lebih jauh lagi, tidak hanya kesedihan, kawan. Keluarganya juga, terutama istri dan anaknya, harus rela menanggung beban hidup mereka yang sebelumnya mungkin lebih banyak ditanggung oleh Norman. Mereka secara tidak langsung juga menjadi korban atas pengkriminalisasian tindakan “judi karena hobi” yang digeluti Norman. Apakah itu juga baik?

“Aturan, kawan, tak selalu menghasilkan kebaikan”

So, what’s on your mind?


* Tulisan ini hanyalah pendapat pibadi dari penulis. Penulis tidak menyatakan bahwa pendapatnya dalam tulisan ini adalah pendapat yang paling benar. Setiap pihak memiliki sudut pandang/pendapatnya masing-masing, dan penulis selalu terbuka dalam menerima segala pendapat lain maupun kritik dan saran.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s