Pentingnya Upaya Pencegahan Kejahatan

Setiap tempat memiliki resiko untuk terjadinya kejahatan. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa peluang terjadinya kejahatan bisa timbul kapan saja dan dalam kondisi apapun. Setiap kejahatan tersebut tidak dapat terjadi hanya dengan satu faktor penyebab. Kejahatan dapat terjadi karena beberapa faktor. Hal ini berarti bahwa kejahatan tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan faktor yang jamak.

Faktor-faktor tentang terjadinya kejahatan sering kali tidak disadari oleh masyarakat. Beberapa faktor yang menyababkan terjadinya kejahatan tidak hanya berasal dari pelaku potensial. Ada beberapa faktor lain yang harus diperhatikan. Faktor lain tersebut misalnya adanya kemampuan dan alat yang dimiliki pelaku, adanya target kejahatan yang sesuai dan adanya kesempatan.

Most crimes are committed because the offender can see the opportunity. This can be one or a combination of opportunities, such as easy access, places to hide, an absence of a clear definition between public and private space, poor lighting and landscape planting that can conceal someone’s presence. The more that offenders feel unsafe and vulnerable, the less they are likely to commit an offence. (Colquhon, 2004: 5)

Kejahatan dapat terjadi juga diakibatkan oleh kondisi sosial dalam masyarakat. Hal yang saat ini terjadi adalah terdapat degradasi dari nilai dan norma sosial yang tertanam dalam masyarakat. Colquhon (2004:12) menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Individualisme merupakan salah satu hal yang berpeluang menciptakan terjadinya kejahatan. Nilai dan norma dalam masyarakat sekarang tidak begitu diperhatikan untuk dijadikan pondasi. Kejahatan dapat terjadi apabila nilai sosial mengalami pengikisan dalam masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, keyakinan dan permasalahan dapat diatasi bersama-sama. Namun, dalam masyarakat modern, hal tersebut tidak terjadi. Hal ini disebabkan karena adanya individualisme yang ada dalam pribadi masyarakatnya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko terjadinya kejahatan, dibutuhkanlah suatu pencegahan terhadapnya. Pencegahan kejahatan yang dilakukan haruslah melihat faktor-faktornya. Hal ini dibutuhkan untuk mengetahui bagaimana tindakan pencegahan yang sesuai dengan mempertimbangkan faktor yang ada.

Hal yang perlu disadari bahwa praktek dari kejahatan itu akan terus berkembang. Pola kejahatan yang dilakukan oleh pelaku akan terus mengalami perubahan. Konsekuensinya adalah metode dalam pencegahan kejahatan harus merujuk kepada perkembangan kontemporer. Oleh karena itu untuk melakukan kajian terhadap pencegahan kejahatan tidak hanya melihat faktor penyebab terjadinya hal tersebut, tetapi juga harus melakukan elaborasi model pencegahan kejahatan dan menyesuaikan dengan pola kejahatan yang terjadi.

Pencegahan kejahatan yang dilakukan harus melihat dari segi sosial dan juga fisik. Hal yang dilakukan harus mempunyai daya antisipatif yang tinggi. Perubahan kondisi fisik penting dilakukan karena peluang terjadinya kejahatan dilihat dari kondisi fisik yang ada. Namun, kondisi sosial juga tidak dapat kita lupakan. Seperti penjelasan sebelumnya bahwa kondisi masyarakat akan dapat mempengaruhi terjadinya kejahatan sekaligus dapat mencegah tindak kejahatan.

…kita sadar bahwa penangan masalah kejahatan tidak bisa dilakukan begitu saja oleh masyarakat, ataupun polisi tetapi harus ada kerjasama diantara keduanya, terutama untuk masyarakat perkotaan. Namun, tidak hanya itu, setting fisik juga harus mampu merekayasa perilaku manusia. (Sudiadi, 2001:6)

Tempat yang paling berpotensi untuk munculnya kejahatan adalah tempat umum. Resiko terjadinya kejahatan di tempat umum memang tidak dapat dihindarkan. Di tempat umum, terjadi nteraksi antar sesama individu. Individu tersebut bisa menjadi seorang korban yang potensial maupun pelaku yang potensial.

_______________________________

Tentang Penulis

Riefky Bagas Prastowo

Sangat piawai dalam bersikap: tahu kapan harus politis, sangat mahir untuk mengedukasi, dan mengerti bagaimana caranya bersikap bijak dalam berbagai situasi. Bagas, bisa dibilang, adalah mahasiswa yang benar-benar aktif di kampus FISIP UI. Menurut beberapa teman dekatnya, dia mengerti isu-isu seputar kampus dan isu-isu lainnya, bahkan di ruang lingkup nasional maupun internasional. Tidak ada kata tidak untuk sepak bola. Mahasiswa Program Studi Kriminologi angkatan 2009, yang aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI dan Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa (SUMA) UI ini, juga berperan sebagai gatekeeper di komunitas WPC, dan menjabat sebagai Redaktur Bahasa di Buletin WPC.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s