Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

Penulis merupakan mahasiswa perantauan dari Salatiga yang telah menjalani perkuliahan di Universitas Indonesia jurusan Kriminologi selama dua tahun. Dalam dua tahun yang telah dijalani banyak pengalaman yang dialami khususnya berkaitan dengan pengalaman menjadi korban kejahatan. Selama dua tahun tersebut, total penulis telah mengalami kerugian akibat menjadi korban kejahatan hingga jutaan rupiah, yaitu dalam bentuk kehilangan handphone, laptop, flasdisk, uang, dan berbagai barang lainnya. Oleh karena itu penulis ingin berbagi pengalaman serta memberikan tips dan trik sederhana agar para pembaca tidak menjadi korban berikutnya. Sesungguhnya memang benar apa kata bang napi, kejahatan terjadi tidak hanya karena ada niat dari si pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan, maka waspadalah…waspadalah!!

Mencegah lebih baik daripada mengobati, ungkapan tersebut juga berlaku dalam hal kejahatan. Kejahatan lebih baik dicegah seminimalisir mungkin, karena apabila kita telah menjadi korban kejahatan terlalu susah untuk mengobatinya. Obat yang paling sering kita terima apabila telah menjadi korban adalah ungkapan persahabatan dengan menepuk punggung kita sambil berkata, “Sabar yah…yang hilang biarlah hilang,  semua yang hilang akan diganti sama yang di atas, pelakunya pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal”. Itu semua sebenarnya tidak menyelesaikan masalah juga, karena sesungguhnya barang yang sudah diambil tidak dapat dikembalikan. Selain itu, apabila menjadi korban kejahatan kita juga sering berobat ke polisi berharap polisi dapat mengatasi masalah tanpa masalah. Tapi sesungguhnya polisi juga manusia, kita sama-sama tahu sendirilah bagaimana jadinya. Obat yang terakhir adalah berobat ke dukun, berharap mbah dukun dapat mengembalikan barang yang telah hilang dengan bantuan kekuatan gaibnya. Tapi seringkali orang lupa bahwa dukun juga perlu uang makanya itu kita harus membayar, sesungguhnya apabila dukun dapat mengembalikan semua barang maka dia akan lebih untung jika tidak memberitahu kita. Itulah berbagai obat yang sering dilakukan apabila menjadi korban kejahatan dan kesemua obat itu hanyalah obat pelipur lara. Sesungguhnya obat paling mujarab adalah just do it, hanya doa, ikhtiar, dan tawakal.

Pengalaman penulis menjadi korban kejahatan dialami pada saat kehilangan berbagai barang di kontrakan yang ditinggali penulis bersama seorang teman. Kejadian tersebut dialami sekitar setahun yang lalu, dikarenakan kelalaian penulis dan ketidakwaspadaan penulis terhadap potensi kejahatan yang selalu ada di sekitar kita.

Semua berawal ketika penulis berujar kepada seorang teman yang menanyakan keamanan di kontrakan, “Disini gak pernah ada maling?”. Karena kebetulan kontrakan penulis terletak di daerah yang nyempil dan tidak diketahui banyak orang, penulis menjawab dengan entengnya “Yaelah, maling aja palingan juga belum tau… palingan jalan kesini juga nyasar ujung-ujungnya”. Akhirnya si maling nan jauh disana mungkin mendengar apa yang penulis katakan dan merasa diremehkan si maling pun beraksi.

Begini ceritanya…

penulis pulang ke kontrakan tengah malam setelah menjalani rutinitas kampus. Karena saking capeknya, penulis pulang ke kontrakan langsung menuju ke tempat tidur dan meletakan barang sembarangan, setelah beberapa saat berlalu penulis telah tertidur pulas di bawah alam sadar. Penulis menggampangkan keadaan karena tidak mengunci pintu berharap teman sekontrakan yang mengunci pintu kontrakan. Penulis juga membiarkan pintu kamar terbuka sehingga apa yang ada dalam kamar bisa terlihat dari luar. Selain itu, penulis juga meletakkan barang sembarangan, padahal barang tersebut merupakan barang berharga bagi mahasiswa, yaitu laptop, handphone, dan dompet. Itulah tiga kesalahan yang dilakukan seorang mahasiswa Salatiga.

Penulis menerima konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan, yaitu ketika terbangun dari tidur penulis tidak menemukan laptop yang ditaruh dalam tas dan dua handphone yang biasanya berserakan di tempat tidur. Untungnya penulis masih menemukan dompet, walaupun di dalamnya hanya ditinggal satu koin uang seribuan baru. Mengetahui itu semua penulis kemudian bergegas untuk melaporkan kejadian, tapi kemudian ketika sampai di luar bingung melapor kemana karena ingat bahwa penulis belum terdaftar menjadi warga setempat. Kemudian penulis berinisiatif untuk melapor ke polisi dan berharap banyak karena penulis melihat masih ada jejak kaki pelaku. Penulis semakin berharap karena setelah melalui proses yang panjang akhirnya bagian reskrim datang ke kontrakan untuk mengecek tempat kejadian. Tetapi sayang seribu sayang, itu hanya harapan belaka, karena setelah itu tidak lagi ada kelanjutannya. Penulis hanya bisa menerima, jangan menyesali apa yang sudah terjadi.

Berdasarkan pengalaman itu, sekarang penulis mulai berhati-hati agar tidak menjadi seperti keledai yang tidak belajar dari pengalaman dan mengulang kesalahannya berulangkali. Penulis menyarankan berbagai tips dan trik agar tidak menjadi korban pencurian seperti yang dialami oleh penulis.

Pertama, jangan lupa melaporkan data diri pada RT/RW setempat agar apabila menjadi korban kejahatan tidak bingung harus melapor kemana dan setidaknya mendapat pertolongan pertama. Kedua, jangan lupa mengunci pintu karena pintu yang tidak terkunci sama saja dengan mempersilakan maling masuk. Untuk sekedar informasi, setiap kunci yang asli pasti terdapat dua duplikatnya. Ketiga, usahakan barang yang ada di dalam tidak kelihatan dari luar. Untuk itu, jangan malas memasang gorden ataupun dapat menggunakan rumah dengan kaca yang tidak bisa terlihat dari luar, lebih aman lagi apabila setiap jendela rumah ditralis. Keempat, barang yang berharga ditaruh di tempat yang tidak banyak orang tahu. Misalnya, taruh dompet ataupun handphone di bawah tempat tidur. Selain itu, laptop juga dapat ditaruh di balik tumpukan pakaian-pakaian. Kelima, jangan ngomongin maling sembarangan ntar bakalan kena akibatnya, karena apa yang kita katakana semua pasti ada konsekuensinya. Tapi pada intinya semua pencegahan yang kita lakukan bersifat untuk meminimalisir kejahatan, karena kejahatan tidak dapat dihilangkan. Sesungguhnya maling selalu lebih pintar daripada korbannya, untuk itu kita dituntut untuk selalu waspada terhadap kejahatan yang bakalan selalu ada di sekitar kita.

________________________

Tentang Penulis

Firman Setyaji

Mahasiswa Program Studi Kriminologi, angkatan 2009. Memiliki hobi ngopi di Takor, Meja Pojok (tongkrongan favorit mahasiswa kriminologi). Pemuda pecinta grup band Slank ini memang terkesan sebagai orang yang santai dan cuek, tetapi siapa sangka, ide-ide cemerlang seringkali muncul darinya. Atas gagasannya lah komunitas WPC terbentuk. Sekarang ini, selain sibuk dengan tugas-tugas kuliah, Kaspo, nama panggilannya, menjabat sebagai Pemimpin Umum WPC dan Pemimpin Redaksi Buletin WPC (WPC edisi cetak).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s