Kejahatan Membayangi Kita

Saya pernah menonton sebuah filem yang berhasil memberikan gambaran tentang kejahatan yang selalu menghantui semua orang. Filem itu bercerita tentang seorang psikopat fedofil yang meneror masyarakat perkotaan dengan serentetan pembunuhan atas anak-anak. Polisi kewalahan dalam mencari jejak si pelaku. Teror yang sangat meresahkan masyarakat itu akhirnya memunculkan suatu keadaan fear of crime di seluruh kota, dan bahkan para actor yang aktif dalam dunia mafia di kota itu juga ikut merasa khawatir dengan kehadiran si pelaku pembunuhan.

Film 'M' karya Fritz Lang

Niat dari saya menyinggung filem “M” (1931), karya Fritz Lang itu adalah untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat dipahami oleh kita semua dalam meningkat kewaspadaan terhadap kejahatan. Meskipun di dalam cerita, konteks persoalan yang dihadirkan adalah tentang pembunuhan sementara kejahatan di masyarakat itu sangat beragam, tetap dapat dijelaskan beberapa faktor penting terkait dengan terjadinya kejahatan dan munculnya korban yang potensial.

Dalam “M”, saya melihat ada beberapa aspek yang menyebabkan pelaku melancarkan aksinya. Pertama, hasrat untuk memuaskan nafsu yang muncul dari dalam diri pelaku. Kedua, adanya kesempatan bagi pelaku untuk mendekati korbannya, yaitu anak-anak. Ketiga, kurangnya pengawasan dan kontrol dari orang tua korban atau dari masyarakat. Keempat, usaha polisi dan para mafia dalam meringkus si pelaku pembunuhan.

Dalam pembahasan tentang fenomena kejahatanyang ada di masyarakat, pada suatu waktu di kelas mata kuliah Strategi Pencegahan Kejahatan, dosen saya pernah berkata bahwa potential offender adalah suatu keadaan bagi seorang manusia yang secara rasional melakukan kejahatan, dengan pertimbangan untung dan rugi. Dengan kata lain, semua manusia yang hidup di bumi ini memiliki potensi untuk melakukan kejahatan karena ada untung rugi yang dipertimbangkan: apakah ada keuntungan bagi saya jika ingin melakukan suatu pelanggaran, di mana keuntungan itu lebih tinggi nilainya daripada tidak melakukan kejahatan?. Dan apabila terjadi suatu tindakan kejahatan oleh pelaku tanpa pertimbangan untung dan rugi, hal itu masuk dalam konteks kejahatan irasional, seperti misalnya: orang yang mengalami gangguan jiwa (orang gila) memukul seorang pedagang tanpa ada sebab musababnya.

Jika kita melihat modus dari pelaku dalam filem “M”, memang benar bahwa si pelaku memiliki gangguan jiwa. Akan tetapi kejahatan yang ia lakukan masih dalam konteks rasional, mempertimbangkan untung dan rugi, yaitu melihat apa keuntungan yang ia dapat: jika tidak membunuh, nafsu tidak terpuaskan.

Merujuk pada konteks kejahatan yang lebih umum, semua pelaku melakukan hal itu: pertimbangan untung dan rugi. Seorang pencuri akan melancarkan aksinya apabila nilai atau harga barang yang ia curi itu dapat memenuhi kebutuhan yang ia perlukan, dan melebihi nilai-nilai lain yang muncul jika dia tidak melakukannya.

Lebih lanjut, dosen saya berkata bahwa factor penting yang menyebabkan terjadinya kejahatan adalah adanya kesempatan. Lebih rinci lagi, kesempatan itu dijelaskan dalam routine activity theory dan lifestyle theory activity. Seseorang dapat menjadi korban pelaku kejahatan karena rutinitas yang mereka lakukan setiap hari, atau dengan gaya hidup yang menjadi ciri khas mereka. Di dalam kejahatan-kejahatan konvensional, khususnya, faktor ini menjadi yang utama.

Contohnya dapat kita lihat dalam “M”, yaitu adegan tentang si pelaku yang mendekati seorang anak kecil sepulang sekolah. Pulang dari sekolah merupakan salah satu rutinitas anak-anak yang dilakukan di luar lingkungan rumah, dan (sangat besar kemungkinanya) lepas dari pengawasan orang tua. Keadaan seperti ini menjadikannya sebagai potential victim, karena rawan bertemu dengan para pelaku di jalanan. Dan di dalam adegan itu, pelaku secara tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang baru pulang dari sekolah melintas di depannya. Kemunculan anak kecil itu kemudian mendorong hasratnya untuk melakukan kejahatan (si pelaku mendapat kesempatan untuk memuaskan nafsunya).

Penjelasan itu kemudian sangat erat dengan aspek ketiga, yaitu pengawasan orang tua dan masyarakat. Di dalam filem, terlihat bahwa ibu si anak (pada saat kejadian peristiwa pembunuhan) sedang berada di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sedangkan si bapak tidak diketahui berada di mana. Masyarakat di sekitarnya juga tidak terlalu menaruh perhatian pada anak-anak, sebelum akhirnya berita pembunuhan itu menjadi heboh di media surat kabar. Pengawas, atau guardians, adalah salah satu kunci dalam strategi pencegahan kejahatan. Ketidakhadiran pengjaga/pelindung/pengawas akan semakin membuka lebar kesempatan bagi pelaku untuk melancarkan aksinya.

Pada aspek yang keempat, usaha dari pihak berwajib (guardians) di dalam cerita filem memang terlihat sangat apik, meskipun di awalnya terlihat tidak membuahkan hasil sama sekali. Penyelidikan para detektif dari kepolisian menghantarkan mereka ke orang yang menjadi pelaku sebenarnya dalam semua runtutan peristiwa pembunuhan. Akan tetapi yang kita lihat di sini adalah tentang kesulitan yang dihadapi oleh polisi di awal-awal cerita. Dalam menit-menit awal, terlihat adegan bahwa kepala polisi menerima kemarahan dari pejabat kota karena belum juga berhasil meringkus pelaku pembunuhan. Kemudian si kepala polisi menjelaskan bahwa stafnya telah melakukan usaha yang maksimal, tetapi ada banyak faktor yang menyulitkan mereka, seperti kehilangan jejak, keterangan yang ambigu dari para saksi, serta persoalan kode etik yang harus mereka jaga dalam mencari sumber informasi dari masyarakat.

Aspek ini menjadi penting untuk dibahas karena di dalam filem terlihat bahwa para anggota mafia juga berusaha untuk menangkap si pelaku, dengan melibatkan semua para gelandangan dan pengemis yang berserakan di penjuru kota. Dalam caranya itu, para anggota mafia selangkah lebih cepat dari polisi untuk mendapatkan si pelaku pembunuhan. Adegan cerita ini, terutama bagi saya sendiri, menjadi suatu wacana kritis yang patut didiskusikan terkait dengan strategi pencegahan kejahatan. Karena di dalam teori kriminologi, terdapat salah satu pendekatan pencegahan kejahatan, yaitu community-based crime prevention, yang melibatkan masyarakat dalam mencegah kejahatan atau bahkan dalam menangkap para pelaku kejahatan. Pendekatan ini menjadi cara yang sangat efektif dalam menanggulangi persoalan teror kejahatan, apakah itu pembunuhan, pencurian, perampokan, penodongan, dan sebagainya yang sering muncul di tengah-tengah masyarakat. Dan merujuk ke cerita filem “M”, jika saja polisi melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh anggota mafia, tentunya mereka tidak akan mengalami kesulitan.

Di dalam perkembangan ilmu strategi pencegahan kejahatan, para polisi di seluruh dunia telah menerapkan itu, dan bahkan polisi internasional juga mengklaim bahwa community-based crime prevention merupakan salah satu cara yang efektif.

Lalu apa yang dapat kita ambil setelah menyaksikan filem “M”? Tentu saja tentang pemikiran-pemikiran terkait dengan usaha pencegahan kejahatan tersebut. Dengan demikian, saya tuliskan beberapa poin penting yang harus kita lakukan agar tidak menjadi potential victim atau tidak memancing potential offender, yaitu:

  1. Meiminmalisir semua kemungkinan yang ada bagi para pelaku untuk melancarkan aksinya.
  2. Memperhatikan gaya hidup kita, dan juga waspada dengan rutinitas yang kita lakukan sehari-hari, agar tidak menjadi korban yang potensial. Misalnya mengurangi kebiasaan untuk jalan sendirian di malam hari, baik itu pulang dari sekolah, kampus atau tempat kerja.
  3. Meningkatkan penjagaan dan pengawasan, yaitu dengan adanya tenaga sekuriti yang selalu siap siaga di lingkungan masyarakat kita.
  4. Pencegahan dengan cara pelibatan seluruh masyarakat merupakan suatu keharusan dalam rangka mengurangi dan mencegah kejahatan yang dapat terjadi di lingkungan tempat kita tinggal.

Kejahatan memang tidak akan bisa dihilangkan dari masyarakat. Namun demikian, suatu usaha untuk menanggulanginya sangat diperlukan. Dengan suatu sikap yang “sadar kejahatan”, kita harus berbuat semaksimal mungkin dengan cara kita yang mampu. Persiapan, penjagaan, kewaspadaan menjadi suatu hal yang utama dalam kepala kita. Jadi, Waspada!

___________________________

Tentang Penulis

Manshur Zikri

“Saya hanya menginginkan kehidupan yang dinamis dan menjauhi lingkungan yang monoton. Satu-satunya solusi adalah dengan berkegiatan. Apa saja. Kalau masih ada yang bertanya, kegiatan yang seperti apa? Ya, saya tetap menjawab ‘apa saja’, yang penting tidak berdiam diri, atau lebih tepat diistilahkan sebagai ‘beternak diri’ seperti yang dilontarkan Pram untuk menghujat pemuda masa kini. Intinya, jangan mau menjadi ‘ternak’. Melakukan kegiatan yang bermanfaat ala racikan mahasiswa itu menjadi satu keharusan. Oleh sebab itu kehadiran lembaga-lembaga mahasiswa di lingkungan kampus menjadi satu hal yang diamini. Akan tetapi, saya memiliki cara sendiri yang sedikit berbeda dari orang-orang kebanyakan. Membuat ‘kerusuhan’ ala Tooftolenk itu merupakan satu hal yang menyenangkan: tidak perlu kemeja, tidak perlu sepatu, tidak perlu IP tinggi. Toh kita punya tangan, mata dan telinga yang bisa didayagunakan tanpa harus mengoles citra atau kharisma. Kita punya suara yang bisa dilemparkan kapan saja. Bersuara dengan bijak, tentunya. Apa yang menjadi penting adalah kemauan dan intensitas. Itu saja! #asyek!” begitulah kata Tooftolenk, nama lain dari Zikri, pada suatu hari di kantin kampus, dalam sebuah perdebatan yang membosankan karena kehabisan persediaan rokok dan kopi di malam hari.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s