Ketika Anak Kehilangan Haknya

            Anak merupakan generasi penerus yang diharapkan dapat membawa sebuah kemajuan bagi bangsa. Dengan demikian, untuk bisa mencapai harapan yang diinginkan tadi, diperlukan perhatian khusus terhadap setiap hak dari anak yang dapat memicu tumbuh kembang yang baik terhadap seorang anak. Indonesia sendiri memiliki UU No. 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang di dalamnya ada diatur mengenai apa saja hak-hak yang dimiliki oleh seorang anak. Beberapa hak penting dari seorang anak yang dirasa sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya disebutkan di dalam pasal 13, yakni hak untuk medapatkan perlindungan dari tindakan diskriminasi, eksploitasi (ekonomi maupun seksual), penelantaran, kekejaman/kekerasan/penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya. Akan tetapi, apakah permasalahan sudah bisa dikatakan selesai ketika Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur perlindungan terhadap anak? Yang menjadi satu pertanyaan besar bagi bangsa kita, Indonesia, adalah bagaimana dengan praktik pada kenyataannya? Bisa dikatakan masih mendekati nol.

            Saya bukanlah seorang yang sudah cukup ahli dalam menangani dan menanggapi masalah perlindungan terhadap hak-hak anak, namun saya sangat prihatin dengan apa yang sampai saat ini masih sering dihadapi oleh anak-anak, yaitu kekerasan dan segala perlakuan salah lain karena ketidakberdayaan mereka dan menjadi momok tersendiri bagi anak-anak di Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah kebanyakan orang tua berdalih ingin mendidik anak agar bisa disiplin dan menjadi anak yang tangguh, yaitu dengan menggunakan kekerasan. Sangatlah miris ketika melihat dan mendengar bahwa akhir-akhir ini kasus kekerasan terhadap anak semakin sering mencuat di berbagai media massa. Mulai dari kasus kekerasan fisik hingga kekerasan seksual. Khususnya pada kasus kekerasan seksual terhadap anak, menunjukkan betapa ketidakberdayaan seorang anak untuk melawan kuasa yang lebih dari orang yang lebih tua darinya justru dijadikan kesempatan bagi sebagian orang yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut bisa menjadi representasi dari keadaan anak-anak di Indonesia yang pada kenyataannya masih saja, bisa dibilang, menjadi masyarakat kelas dua. Banyak msayarakat di Indonesia yang masih belum ‘melek’ akan pentingnya perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh seorang anak.

            Tidak hanya mengenai kekerasan dan eksploitasi seksual yang masih harus dihadapi oleh sebagian besar anak-anak di Indonesia. Sampai saat ini, salah satu hak anak yang masih terlanggar adalah mengenai perlindungan seorang anak dari eksploitasi ekonomi. Masih banyak sekali anak di Indonesia yang sejak kecil sudah diharuskan untuk bekerja. Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat di Indonesia masih di bawah garis kemiskinan sehingga secara awam dikatakan wajar jika si anak dari orang tua yang miskin perlu membantu dalam mencari nafkah sehari-hari. Akan tetapi, yang menarik perhatian dan menjanggal hati adalah fakta bahwa anak-anak ini justru sering kali dijadikan “alat” oleh orang tua mereka dalam mencari nafkah. Keluguan seorang anak lagi-lagi dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kuasa lebih atasnya (orang tua). Pekerjaan-pekerjaan yang dijalani oleh anak pun seirng kali tidak memperhatikan batasan-batasan waktu tertentu, dari pagi hingga malam kebanyakan anak-anak tesebut masih harus (diharuskan) bekerja. Fakta yang terjadi ini pastinya akan sangat mempengaruhi keberhasilan dari tumbuh kembang yang baik dari seorang anak. Anak-anak yang harus bekerja ini dari usia dini sudah harus dihadapkan dengan tekanan-tekanan kondisi ekonomi yang ada. Selain itu, fokus anak terhadap pentingnya pendidikan pun akan berkurang, bahkan kebanyakan anak lebih memilih untuk mencari uang daripada sekolah. Ini bisa jadi dikarenakan proses mendidik anak di dalam keluarga yang salah juga. Dari kecil anak sudah dididik bahwa lebih penting mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada harus sekolah dan belajar (dalam konteks keluarga dengan ekonomi yang rendah). Dengan demikian, timbul lagi salah satu hak anak yang masih sering tidak terpenuhi, yaitu hak untuk mendapatkan pendidikan.

            Masih banyak beberapa perlakuan yang salah terhadap anak yang sampai saat ini masih sering terjadi, baik yang terlihat atau pun yang tidak. Melihat dari beberapa fakta kehidupan anak yang ada di atas, bisa dikatakan ketika salah satu hak anak tidak terpenuhi akan menimbulkan tidak terpenuhinya hak-hak lain yang senantiasa mengikutinya dari belakang. Oleh karena itu, sudah saatnya kita harus lebih peka terhadap perlindungan dari setiap hak yang dimiliki oleh anak, mengingat tumbuh kembang yang optimal dari seorang anak adalah modal penting bagi kemajuan suatu bangsa di masa depan. Bagaimana bisa kita memiliki harapan yang besar dan banyak terhadap anak-anak kita, tetapi kita justru memberikan perlakuan yang salah dan perlindungan yang kurang terhadap mereka?

_______________

Tentang Penulis: Penulis merupakan seorang Mahasiswa aktif Kriminologi UI 2011, I Gusti Ngurah Aditia T A. Pada tahun 2013 ini, Adit menjadi salah satu anggota baru wepreventcrime. Untuk berdiskusi atau memberi tanggapan mengenai tulisannya dapat menghubungi Adit disini

About these ads

2 responses to “Ketika Anak Kehilangan Haknya

  1. Tulisan yang menarik. Akan lebih baik lagi jika opini dalam tulisan ini didukung dengan data dan literatur terkait. :)

    • terima kasih atas masukannya, akan segera disampaikan kepada penulis. Tulisan ini sebenarnya diharapkan menjadi ‘pemantik’ untuk kita lebih peka dan peduli terhadap masalah anak yang kemudian diangkat sebagai tema buletin wpc bulan maret, dan malam ini buletin akan segera diunggah di wordpress kami, silahkan ditunggu mas ian :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s